Sektor hotel dan pariwisata memiliki karakter yang cukup unik karena kinerja bisnisnya sangat dipengaruhi oleh mobilitas dan kunjungan wisatawan.
Perubahan jumlah wisatawan dapat berdampak langsung pada pendapatan dan laba perusahaan. Bagi investor yang tertarik pada sektor ini, memahami kondisi fundamental dan valuasi masing-masing emiten menjadi langkah penting sebelum mengambil keputusan.
Salah satu saham yang dapat diperhatikan adalah saham buva, terutama jika Anda ingin melihat emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar dalam daftar ini. Untuk memantau informasi dan melakukan transaksi, aplikasi saham Makmur aman dan Terbaik juga menyediakan berbagai data yang dapat membantu investor menilai pilihan saham.
Dalam daftar berikut, tiga saham hotel dan pariwisata dibandingkan berdasarkan kapitalisasi pasar, kinerja laba, valuasi, dividen, serta aktivitas perdagangannya.
Perbedaan karakter tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menyesuaikan pilihan saham dengan strategi dan profil risiko masing-masing investor.
1. BUVA, Kapitalisasi Terbesar dengan Laba Sangat Tipis
Saham BUVA berada di posisi teratas berdasarkan kapitalisasi pasar, yaitu sekitar Rp18,71 triliun. Harga sahamnya tercatat Rp780 per lembar dengan kenaikan 2,63%. Dari sisi perdagangan, volume harian mencapai 156,9 juta lembar, menjadi yang tertinggi di antara tiga saham dalam daftar. Namun, relative volume (rel vol) berada di angka 0,59, yang menunjukkan aktivitas perdagangan masih berada di bawah rata-rata normalnya.
Dari sisi profitabilitas, kondisi BUVA perlu diperhatikan lebih lanjut. Earnings per share (EPS) hanya sebesar Rp0,86, sehingga Price to Earnings Ratio (PER) mencapai 908,35. PER yang sangat tinggi tersebut terutama dipengaruhi oleh laba per saham yang masih sangat kecil. Pertumbuhan EPS juga tercatat minus 77,35%, menunjukkan adanya penurunan laba dibandingkan periode sebelumnya.
BUVA juga belum mencatatkan dividend yield karena nilainya berada di 0%. Dengan demikian, keunggulan utama BUVA dalam daftar ini terletak pada kapitalisasi pasar dan aktivitas perdagangan, sementara kinerja laba masih menjadi aspek yang perlu dicermati.
2. INPP, Kapitalisasi Menengah dengan Laba Negatif
INPP memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp7,72 triliun dan berada di posisi kedua dalam daftar. Harga sahamnya tercatat sekitar Rp670 per lembar, turun 2,90% pada perdagangan terakhir. Namun, aktivitas perdagangannya relatif tipis dengan volume hanya sekitar 19,8 ribu lembar dan relative volume 0,06.
Kondisi laba menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan. EPS INPP berada di angka minus Rp43,41 sehingga PER tidak dapat dihitung karena perusahaan mencatatkan kerugian. Pertumbuhan EPS juga berada di angka minus 197,60%, yang menunjukkan penurunan kinerja laba yang cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi lain, INPP masih mencatatkan dividend yield sebesar 1,59%. Namun, angka tersebut perlu dilihat bersama kondisi profitabilitas perusahaan dan aktivitas perdagangannya. Volume yang rendah juga menunjukkan adanya risiko likuiditas yang perlu dipertimbangkan, terutama bagi investor yang berencana melakukan transaksi dalam jumlah besar.
3. JSPT, Satu-satunya dengan Pertumbuhan Laba Positif
JSPT menjadi saham dengan kapitalisasi pasar paling kecil dalam daftar, yaitu sekitar Rp3,23 triliun. Harga sahamnya berada di level Rp1.385 per lembar setelah mengalami koreksi 0,72%. Volume perdagangan tercatat sekitar 18,9 ribu lembar dengan relative volume 0,28, sehingga aktivitas transaksinya masih relatif tipis.
Meski memiliki kapitalisasi paling kecil, JSPT menunjukkan karakteristik laba yang lebih positif dibandingkan dua saham lainnya. EPS tercatat sebesar Rp128,58 dengan pertumbuhan 14,09%, menjadikannya satu-satunya saham dalam daftar yang mencatatkan pertumbuhan laba positif.
Dari sisi valuasi, PER JSPT berada di angka 10,77. Sementara itu, dividend yield tercatat sebesar 1,79%. Kombinasi pertumbuhan laba positif, valuasi yang relatif lebih moderat, dan dividend yield tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang mencari emiten dengan kinerja laba yang lebih baik dalam daftar ini. Namun, volume perdagangan yang tipis tetap perlu diperhatikan sebelum melakukan transaksi.
Ketiga saham hotel dan pariwisata ini memiliki karakteristik yang berbeda. BUVA unggul dari sisi kapitalisasi pasar, tetapi memiliki laba yang sangat tipis dan pertumbuhan EPS negatif. INPP berada di posisi tengah dari sisi kapitalisasi, tetapi masih mencatatkan laba negatif serta aktivitas perdagangan yang rendah. Sementara itu, JSPT memiliki kapitalisasi paling kecil, tetapi menjadi satu-satunya saham dalam daftar dengan pertumbuhan laba positif. Perbedaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menilai saham sesuai dengan tujuan dan profil risiko investasi masing-masing.
Investasi Saham Lebih Tenang Bersama Makmur
Makmur dikembangkan oleh para pakar teknologi dan finansial yang berpengalaman di Silicon Valley serta Wall Street, dengan teknologi analisis berbasis data yang membantu Anda menyusun rencana kekayaan jangka panjang. Kepercayaan tersebut diakui lewat penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan InfoVesta kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Lebih dari satu juta pengguna telah memercayakan investasinya pada aplikasi Makmur dengan rating 4,8. Sistemnya pun aman dan tersertifikasi ISO 27001, sehingga data serta transaksi Anda tetap terlindungi.
Anda dapat memulai dari nominal kecil lalu menambahnya secara bertahap, sambil memakai fitur analisis di aplikasi saham terpercaya ini untuk menimbang pilihan terbaik.




