by

Jika Aku Menjadi Pemimpin “Siapkan 1000 Generasi Muda di Tiap Propinsi untuk Jadi Kader Lingkungan Hidup, Tangguh Hadapi Perubahan Iklim di Indonesia”

Jika Aku Menjadi Pemimpin “Siapkan 1000 Generasi Muda di Tiap Propinsi untuk Jadi Kader Lingkungan Hidup, Tangguh Hadapi Perubahan Iklim di Indonesia”. Menjadi seorang pemimpin hendaknya memiliki Visi, Misi dan Tujuan yang positif, dan maju.

Kita semua tahu, bahwa sejak anak belajar di taman kanak-kanak sudah di kenalkan tentang konsep lingkungan hidup ada materi alam dan lingkungan sekitar dan sosial meski dalam konsep sambil bermain, dan menginjak usia SD anak-anak sudah mulai menerapkan materi tentang alam dan lingkungan serta ilmu sosialnya untuk mencintai lingkungan hidup misal budaya membuang sampah pada tempatnya

Ketika sudah berada di SMP anak-anak sudah dilatih untuk memilah sampah organik dan sampah anorganik, kemudian dilatih juga mengolah sampah organik untuk menjadi pupuk kompos, disamping mempelajari berbagai materi pelajaran IPA dan IPS yang lebih luas lagi.

Di tingkat SLTA siswa-siswi sudah berlatih menjadi konseptor dari ilmu IPA dan IPS, menjadi researcher ilmiah dan tentu saja telah siap menjadi implementor di sosial kemasyarakatan terkait isu lingkungan hidup.

Lalu kemanakah Peran Generasi Muda untuk Indonesia saat ini, sesuai dengan ilmu IPA dan IPA yang telah dipelajari selama sekolah? generasi muda yang telah dididik untuk mengenal, paham dan mengerti tentang Lingkungan hidup seharusnya bisa berkiprah untuk lingkungan hidup dan lingkungan sosial, acap kali “hilang” karena tuntutan kehidupan yang lebih rumit.

Kurangnya kesadaran untuk berperilaku menyayangi alam sekitar dalam konteks sosial kemasyarakatan bukan karena kurangnya materi pelajaran yang diterimanya selama sekolah, melainkan kurangnya implementasi konkrit dan kurangnya kesempatan untuk para generasi muda mengabdikan ilmunya atau dengan kata lain, lapangan pekerjaan yang erat kaitannya dengan lingkungan hidup sangat terbatas jika dibandingkan lapangan kerja manufaktur.

Sebelum membahas peran generasi muda, yang akan saya siapkan jika saya sebagai pemimpin negeri ini ada baiknya kita bahas tentang hal yang mendasari saya untuk menyiapkan 1000 generasi muda di tiap propinsi sebagai kader lingkungan hidup yang tangguh hadapi Perubahan iklim di Indonesia.

Apa itu Lingkungan Hidup?

Lingkungan hidup menurut UU No 32 Tahun 2009 merupakan satu kesatuan ruang baik semua benda, daya, keadaan, dan makhluk yang hidup, termasuk didalamnya adalah manusia dan perilakunya, yang memiliki pengaruh kepada alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

jadi Lingkungan hidup itu sendiri terbentuk dari tiga unsur utama yaitu :

  1. Unsur lingkungan biotik atau hayati
    Komponen lingkungan ini terdiri dari makhluk hidup seperti manusia, hewan atau satwa atau fauna, tumbuhan atau flora.
  2. Unsur lingkungan abiotik.
    Komponen lingkungan yang terdiri dari berbagai benda-benda tidak hidup, misalnya tanah, air, udara, iklim, dan sebagainya.
  3. Unsur sosial budaya
    Unsur ini adalah lingkungan sosial, budaya yang ada di sekitar manusia. Merupakan sistem nilai, gagasan, keyakinan dalam menentukan perilaku manusia sebagai makhluk sosial.
Taman Kehati Galih Batin Tanggamus
Taman Kehati Galih Batin Tanggamus. Foto : www.mitrabentala.org

Tidak Seimbangnya fungsi dari Unsur Lingkungan Hidup Akibatkan Terjadinya Perubahan Iklim

Ketika dari ketiga unsur pembentuk lingkungan hidup itu terjadi interaksi yang dinamis dan seimbang maka lingkungan hidup akan terbentuk menjadi ideal, namun ketika salah satu unsur menguasai unsur lain maka terjadi ketidakseimbangan sehingga berdampak pada hancurnya lingkungan hidup itu.

seperti yang terjadi pada lingkungan hidup di Indonesia saat ini, dimana keberadaan hutan sebagai unsur biotik dan hayati terancam punah oleh karena unsur sosial budaya yang mendominasi secara brutal dalam mengelola sumbber daya alam yang ada, maka membawa dampak pada unsur biotik dan hayati serta unsur abiotik menjadi terganggu, fungsi unsur tersebut akan menjadi timpang.

Sebagai contoh : Ketika hutan juga tidak terjaga kelestariannya, maka akibatnya pemanasan global, yang disebabkan oleh kenaikan gas-gas rumah kaca terutama karbondioksida (CO2) dan metana (CH4), tidak dapat terserap oleh hutan, sehingga mengakibatkan dua hal utama yang terjadi di lapisan atmosfer paling bawah, yaitu fluktuasi curah hujan yang tinggi dan perubahan temperatur. Nah terjadilah Perubahan Iklim, dan hal ini sekarang telah terjadi di Indonesia.

Kebakaran Hutan
Kebakaran Hutan. Foto : www.pexels.com

Faktor Penyebab Perubahan Iklim

Apakah itu saja penyebab terjadinya perubahan iklim? Masih ada penyebab lainnya yaitu :

1. Aktivitas Manusia

Penggunaan listrik yang terlalu over, penggunaan kendaraan bermotor yang memicu polusi udara serta proses pembakaran mesin produksi pabrik meningkatkan emisi karbondiaksida yang pada akhirnya tidak mampu terserap oleh fungsi hutan

2. Peningkatan Gas Rumah Kaca

Gas rumah kaca ternyata dapat menyerap dan memantulkan radiasi matahari sehingga membuat suhu bumi semakin meningkat

3. Pemanasan Global

Akibat dari point 1 dan 2 menyebabkan kenaikan suhu bumi karena peningkatan emisi karbondioksida dan gas rumah kaca

4. Kerusakan Fungsi Hutan

Penembangan hutan tanpa reboisasi mengurangi jumlah tangkapan karbondioksida di bumi.

Penyebab perubahan Iklim
Penyebab perubahan Iklim. Sumber : BMKG

Indikator Terjadinya Perubahan Iklim

Perubahan iklim sudah terjadi, bukan lagi hal fiktif, bukan lagi dongeng atau hanya terjadi dalam film The Day After Tomorrow, bukan pula sekedar isu yang dihembuskan oleh LSM atau NGO International yang sempat tren sejak  2009 lalu hingga saat ini. Ada beberapa indikator bahwa telah terjadi Perubahan Iklim di Indonesia, yaitu :

1. Intensitas Curah Hujan Meningkat

Berdasarkan dari BMKG bahwa Curah Hujan 2020, tertinggi sejak 154 tahun lalu, dari pengukuran meteorologi tercatat pertama kali zaman Belanda tahun 1866. Hujan tertinggi tahun 1866 hanya 185,1 mm/hari.

Berikut tabel intensitas curah hujan sejak 1866 – 2020

1866: 185,1 mm/hari
1918: 125,2 mm/hari
1979: 198 mm/hari
1996: 216 mm/hari
2002: 168 mm/hari
2007: 340 mm/hari
2008: 250 mm/hari
2013: > 100m m/hari
2015: 277 mm/hari
2016: 100-150 mm/hari
2020: 377 mm/hari

Sumber data : Detik.com

Dan rata-rata intensitas curah hujan di Indonesia meningkat 20 mm/hari setiap tahunnya, hal ini menjadi indikator bahwa Perubahan Iklim sudah terjadi dan tentu saja telah membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

2. Peningkatan Suhu Udara

Berdasarkan data observasi BMKG mulai dari tahun 1981-2018 di Indonesia secara umum suhu di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 0.03 °C setiap tahunnya.

Sedangkan untuk bulan Oktober 2020, berdasarkan data dari 88 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara normal bulan Oktober periode 1981-2010 di Indonesia adalah sebesar 27.0 oC (dalam range normal 21.3 oC – 29.8 oC) dan suhu udara rata-rata bulan Oktober 2020 adalah sebesar 27.4 oC. Jadi kenikan anomali positif suhu udara di Indonesia sebesar 0.4 oC.

Peningkatan Suhu Udara Indonesia
Peningkatan Suhu Udara Indonesia. Sumber : BMKG

Dampak Perubahan Iklim di Indonesia

Pada awal isu perubahan iklim terjadi di Indonesia, hampir semua kalangan melihat bahwa dampak perubahan iklim yang terlihat secara langung di Indonesia adalah adanya kenaikan permukaan air laut, kerusakan terumbu karang serta kondisi padang lamun dan mangrove yang tidak baik.

Namun, apakah pada tahun 2020 ini masih relevan? Apakah dampak perubahan iklim hanya itu saja, tidak terjadi dibidang kehidupan lainnya? tentu saja rentetan dampak dari perubahan iklim di Indonesia juga mempengaruhi sektor kehidupan lainnya.

Jika permukaan air laut meningkat, terumbu karang rusak dan mangrove rusak maka biota laut juga akan terdampak, hasil nelayan jadi sedikit otomatis akan mempengaruhi kehidupan sosial ekonominya.

Perubahan intensitas hujan yang ekstrim, juga membawa dampak buruk bagi para petani, gagal panen dari komoditi yang ditanam bukan hal yang asing lagi terdengar, bencana banjir juga terus mengintai warga di perkotaan, bahkan saat ini terus meluas di wilayah Indonesia.

Intensitas curah hujan dan banjir yang semakin meluas juga akan meningkatkan wabah penyakit yang cepat menular terutama penyakit yang dapat menular melalui air. Akibatnya sosial ekonomi dan kesehatan juga menjadi terdampak.

Belum lagi, tentang berkurangnya air bawah tanah seperti informasi yang dikutip dari kompas.com dimana sebuah studi baru mengungkapkan bahwa perubahan iklim memiliki pengaruh yang lebih luas terhadap Bumi. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Science Advances menyebut kalau perubahan iklim dapat menurunkan kemampuan tanah menyerap air. Hal ini tentu kabar buruk karena turunnya daya serap tersebut dapat berimplikasi pada pasokan air tanah, produksi dan ketahanan pangan serta keanekaragaman hayati dan ekosistem menjadi terancam.

Hal tersebut dibuktikan dengan semakin sulitnya mendapatkan air dengan sumur gali, banyak suur gali yang sekarang tak lagi berair, dan akhrinya mau tidak mau menggunakan sumur bor yang menyedot air bawah tanah sehingga hal tersebut semakin memperparah ketersediaan air bawah tanah. Dan berujung pada kerusakan alam itu sendiri.

Bahkan belum lama ini di kutip dari geologi.co.id menyebutkan bahwa United States Agency for International Development (USAID) memperkirakan bahwa pada 2050 Indonesia akan mengalami kerugian sebesar Rp 132 triliun akibat beberapa dampak dari perubahan iklim yang bisa dikuantifikasikan. Dari besarnya biaya tersebut , 53 persen disebabkan oleh penurunan produksi pertanian, 34 persen dampak kesehatan, dan 13 persen dari kenaikan muka air laut.

Generasi Muda Jadi Kader Lingkungan Hidup, Tangguh Hadapi Perubahan Iklim dan Mampu menjadi penggerak di Masyarakat

Edukasi Penanaman Mangrove
Edukasi Penanaman Mangrove. Foto : www.mitrabentala.org

Kerusakan alam oleh keserakahan manusia akhirnya membawa dampak yang mengerikan untuk kita manusia itu sendiri, padahal kita semua sudah pernah belajar ilmu pengetahuan Alam dan juga belajar menjadi orang yang memiliki kepekaan sosial melalui pelajaran ilmu pengetahuan sosial dan budaya serta ilmu lainnya untuk membentuk kita sebagai manusia yang beradab.

Akankah sebagai pemimpin bangsa Indonesia terus diam saja, melihat kehancuran sumber daya alam yang terus menerus digerus oleh keserakahan?  yang akan membawa dampak nyata perubahan Iklim?

Jika saya menjadi pemimpin negeri ini, tentu saja saya akan bangkit untuk kembali menggenggam sumberdaya alam yang telah lepas dari semua pengawasan dan lepas dari tangan kita.  Lalu apa yang harus saya lakukan?

Impian saya adalah mempersiapkan 1000 Generasi Muda di tiap Propinsi tiap tahun di Indonesia untuk menjadi kader tangguh Lingkungan Hidup Indonesia, menjadi kader yang bermartabat, menjadi kader yang bertanggungjawab tak hanya menjaga lingkungan sekitarnya.

Peran Generani Muda ini antara lain :

  • Menjadi kader yang terus menerus melakukan sosialisasi tanpa henti, serta advokasi seluruh kebijakan pemerintah terkait lingkungan
  • Implementasi semua program kelestarian sumber daya alam dan lingkungan
  • Optimalisasi program-program penyelamatan unsur lingkungan biotik atau hayati, lingkungan abiotik
  • Menjadi agen perubahan atau penggerak membantu masyarakat dalam beradaptasi dan resilience terhadap perubahan iklim melalui program community development.
  • Menjadi researcher untuk isu-isu lingkungan hidup dan memberikan input yang positif untuk mengawal dan turut serta dalam pembuatan kebijakan pemerintah terkait lingkungan hidup, hutan, konservasi, dan climate change atau perubahan iklim.
  • Bisa mencari “win-win solution” terkait kebijakan pemerintah terkait manufaktur yang mengelola sumber daya alam dan sumber daya lainnya supaya tidak terjadi kehancuran atas sumber daya alam dan lingkungan itu sendiri.

Untuk itulah 1000 generasi muda itu nanti akan dipersiapkan sebagai “hero” masa depan untuk membantu masyarakat sekitar menjadi resilence terhadap dampak perubahan iklim. Mereka akan menginisiasi program baik adaptasi maupun mitigasi guna mengembalikan fungsi lingkungan hidup.

Apakah ini sekedar impian?

Tidak ini harus menjadi kenyataan, dilansir dari tirto.id yang berdasarkan data Bapennas pada 2020 memperkirakan tingkat pengangguran terbuka (TPT) menyentuh 8,1 hingga 9,2% melompat dari posisi 2019 yang berkisar 5,28%. Bappenas menargetkan pada 2021 TPT akan ditahan di kisaran 7,7-9,1%. Sebagai perbandingan, TPT 9,1% pernah dicapai pada 2007 dengan jumlah penganggur 10 juta orang

Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2020 mencapai 9,77 juta orang dan ini akan terus naik apalagi Ekonomi Indonesia saat ini asuk pada masa Resesi.

Saya akan merekrut generasi muda yang termasuk dalam angka pengangguran, sehingga selain bisa menurunkan angka pengangguran, kita bisa memberikan kesempatan untuk generasi muda berkiprah dalam semua pekerjaan dan dalam semua program untuk kehutanan, konservasi, dan lingkungan hidup.

Jadi apakah 1ooo pemuda-pemudi bisa untuk menjaga lingkungan hidup kita di masing-masing propinsi? dengan 1000 orang tiap tahun maka diharapkan ilmu yang telah mereka dapatkan, pelatihan yang mereka dapatkan, mereka sebagai generasi muda akan mampu memberikan sumbangsih yang besar pada masyarakat Indonesia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *