by

Cek Saham Cuan Hari Ini, Jangan Salah Pilih Ya

-Saham-22 views

Cek Saham Cuan Hari Ini, Jangan Salah Pilih Ya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan ini diprediksi akan bergerak melemah, namun dalam range terbatas.

Pelemahan ini melanjutkan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (30/8/2021) di mana indeks terdepresiasi 0,83% ke level 6.070,03.

Beberapa broker telah memberikan rekomendasi sahamnya yang layak untuk dijadikan pertimbangan sebelum memulai perdagangan hari ini dibuka.

1. Reliance Sekuritas Indonesia – Indeks Bakal Terkonsolidasi

Secara teknikal pergerakan IHSG pulled back upper bollinger bands dan membentuk double top jangka pendek dengan level resistance sekitar 6.160. Momentum bearish tersignal pada indikator RSI dan Stochastic menjadi salah satu tekanan Investor untuk melakukan aksi jual di akhir bulan bulan lalu.

Kondisi Indikator MACD sedikit berada pada area overvalue dengan divergence negatif pada histogram. Sehingga secara teknikal IHSG berpotensi bergerak terkonsolidasi.

Saham pilihan:

ASII
ADRO
BSDE
ICBP

2. Samuel Sekuritas Indonesia – IHSG Rawan Tertekan

IHSG berlanjut dalam trading range 5.900-6.150, dan kini uji resisten. Jika tidak breakout, IHSG rawan tertekan dari level ini.

Saham pilihan:

FREN
NFCX
EXCL

3. Artha Sekuritas – Ada Pelemahan Jangka Pendek

IHSG diprediksi melemah. Secara teknikal candlestick membentuk long black body dan indicator stochastic membentuk dead cross mengindikasikan potensi melanjutkan pelemahan jangka pendek. Pergerakan masih minim sentiment dari data ekonomi namun beberapa rilis laporan keuangan diatas ekspektasi.

Saham pilihan:

DGNS
PTBA
ASII
TINS

4. MNC Sekuritas – Perhatikan Support IHSG

Perhatikan level support terdekat di 6.015, selama IHSG masih berada di atas level supportnya maka pergerakan IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave [iii] dari wave C. Apabila IHSG berhasil menembus resistance di 6.166, maka IHSG akan menuju ke 6.200-6.230.

Saham pilihan:

ELSA
LPPF
PTBA

Ini 10 Saham Tawarkan Cuan dengan Modal di Bawah Sejuta

Jumlah investor ritel di Indonesia kembali melesat pascapandemi Covid-19. Pembatasan kegiatan masyarakat untuk menahan laju penyebaran virus corona membuat masyarakat mulai berinvestasi di saham.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir April 2021, jumlah single investor identification (SID) pasar modal mencapai 5.088.093 investor. Realisasi tersebut tumbuh 31,11% dari posisi akhir 2020 lalu yang sebanyak 3.880.753 SID. SID tersebut termasuk investor saham, reksa dana, dan obligasi.

Sebagian besar dari investor “angkatan corona” ini masih belajar dan cenderung berinvestasi dengan dana terbatas untuk menghidari risiko yang belum bisa dihitung.

Sementara itu, berinvestasi di saham, khususnya saham-saham bluechip alias saham berkapitalisasi pasar besar, nominal harganya sudah tinggi.

Oleh karena itu, investor pemula cenderung bertransaksi di saham-sahm dengan harga nominal rendah untuk pembelajaran.

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia dibanderol dengan harga Rp 30.050/unit. Hal ini artinya investor yang ingin meminang saham BBCA wajib menggelontorkan dana sebesar Rp 3.005.000.
  2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang dibanderol Rp 5.925/unit alias Rp 592.000,
  3. PT Astra Internasional Tbk (ASII) yang dihargai Rp 4.870/unit alias Rp 487.000,
  4. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang diperdagangkan di harga Rp 3.210/unit alias Rp 321.000.
  5. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) bank daerah ini diperdagangkan di harga Rp 695/unit yang artinya investor hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 69.500 untuk membeli saham ini.
  6. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) di harga Rp 935 dengan valuasi PER 8,41 kali dan PBV 0,65 kali,
  7. PT Lippo Karawai Tbk (LPKR) di harga Rp 149/unit dengan PER 10,32 kali dan PBV 0,6 kali,
  8. PT PP Tbk (PTPP) di harga RP 840/unit dengan PER 34 kali dan PBV 0,49 kali.
  9. BMTR dibanderol dengan harga Rp 262/unit yang artinya investor dapat menebus saham BMTR seharga Rp 26.200.
  10. PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) meskipun secara valuasi PBV keduanya tergolong murah yakni masing-masing 0,51 kali dan 0,77 kali. Laba bersih kedua perusahaan tergolong mini bahkan DOID masih merugi.

Meskipun demikian perlu dicatat laba ini merupakan laba kuartal pertama 2021 dimana sebelum harga komoditas batu bara dan minyak mentah naik gila-gilaan.

Tentunya dengan kenaikan harga produk komoditasnya kinerja keuangan Q2 kedua perusahaan berpotensi berbalik arah membukukan keuntungan besar dan berpotensi mendorong harga sahamnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *